BUAH KELADI / TALAS
Keladi atau talas dikenal sebagai obat antikolesterol dan diabetes.
APABILA ANDA HENDAK MEMESAN BOLEH HUBUNGI DI 085261051371
SEKILAS TENTANG KELADI
Kandungan karbohidrat keladi sama tingginya dengan singkong, yakni sekitar 34 % dari bobot segar. Kalori dari tiap 100 gram singkong segar mencapai 146. Sedikit lebih tinggi dari keladi yang hanya 145. Kandungan karbohidrat keladi ini, jauh lebih tinggi dari talas yang 28,2% dan ubi jalar yang hanya 28,19%. Sama dengan singkong, ubi jalar, dan garut, keladi adalah tanaman introduksi dari Amerika Tropis, tetapi dianggap sudah seperti tanaman asli Indonesia. Karenanya, dalam khasanah bahasa Melayu dikenal peribahasa: "Tua-tua keladi; makin tua makin menjadi-jadi". Demikian pula dalam bahasa Jawa. Di Jawa, keladi disebut kimpul dan ada pepatah yang berbunyi: "Ora ngerti kentang-kimpule kok melu omong!" (Tidak tahu kentang-kimpulnya kok ikut bicara). Di Jawa, keladi memang sangat sering dijadikan pengganti kentang. Pada jaman Jepang serta tahun-tahun 1960an, perkedel selalu terbuat dari kimpul. Bukan dari kentang yang harganya sangat tidak terjangkau oleh masyarakat. Beda dengan talas, bagian umbi keladi yang dikonsumsi adalah anakannya. Sementara pada talas justru umbi induknya. Umbi induk keladi tidak lazim dimakan karena racun sapotoksinnya akan menimbulkan rasa gatal. Sementara anak talas tidak bisa membentuk umbi dan hanya menjadi sulur memanjang yang akan tumbuh menjadi individu baru.
Dalam satu individu tanaman keladi, akan tumbuh antara 5 sd. 6 umbi anak. Bobot dan volume umbi anak ini akan sangat tergantung dari ukuran umbi induk, tingkat kesuburan dan kegemburan tanah serta intensitas sinar matahari. Keladi merupakan tanaman yang sangat tahan naungan. Dia masih bisa hidup dan berproduksi secara ekonomis walaupun dibudidayakan di bawah tegakan tanaman dengan tingkat kerapatan tajuk ringan sampai sedang. Misalnya albisia, jati, petai dll. Di bawah naungan tanaman bertajuk dengan tingkat kerapatan tinggi, keladi masih bisa tumbuh, namun produktifitas umbinya akan menurun atau sama sekali tidak memproduksi umbi. Sebaliknya, di lahan terbuka 100% (tanpa naungan sama sekali), keladi tetap masih bisa tumbuh dengan baik. Produktifitas umbinya tinggi (jumlah umbi per individu tanaman bisa lebih dari 10) namun ukurannya lebih kecil. Kualitas umbi yang dihasilkan dari lahan terbuka kurang baik untuk dikonsumsi sebagai keladi rebus atau goreng, karena kadar patinya sangat tinggi. Kalau umbi dari tempat terbuka ini direbus, dikukus atau digoreng, akan menjadi sangat keras. Lebih-lebih kalau tanah di lahan terbuka tersebut berupa lempung. Upaya untuk mengatasinya, dengan pemberian bahan organik sebanyak mungkin, hingga ukuran umbi bisa lebih besar dan daging umbi bisa lebih empuk, karena kadar airnya cukup.
Keladi (Xanthosoma sagittifolium), bisa tumbuh baik di kawasan berketinggian mulai dari 0 m. sd. 1.500 m. dpl. Namun di dataran tinggi, pertumbuhan umbi akan terhambat. Di ketinggian 1.000 m. dpl. misalnya ukuran umbi dari tanaman umur setahun bisa sama besar dengan umbi dari tanaman umur 5 bulan di dataran rendah atau menengah. Di dataran rendah, umbi akan mudah sekali terserang hama pengerek (kumbang Ligyrus ebenus). Hasil optimal keladi akan diperoleh pada dataran menengah (antara 200 m. sd. 600 m. dpl. dengan tanah jenis lempung yang kaya bahan organik. Keladi juga menghendaki sinar matahari penuh sepanjang hari untuk mendapatkan hasil optimal. Namun dia tetap bisa berproduksi baik pada lahan dengan naungan antara 30 sd. 40 %. Masyarakat pedesaan sering menanam keladi di sela-sela tanaman jagung. Umur tanaman jagung hanyalah sekitar 100 hari (3 bulan). Setelah itu keladi akan menerima sinar matahari penuh dan tidak lagi berebut air serta nutrisi dengan jagung. Pada saat itulah pertumbuhan umbi akan optimal. Penanaman jagung dengan tumpangsari keladi dilakukan pada awal musim penghujan. Biasanya pada bulan-bulan Oktober sd. November. Pada bulan Januari sd. Februari, jagung "rendengan" sudah mulai dipanen. Ketika itulah keladi akan bisa tumbuh optimal selama sekitar 5 bulan untuk bisa dipanen pada bulan-bulan Juni dan Juli.
Tetapi karena nilai ekonomis keladi masih sangat rendah, maka petani tidak pernah membudidayakannya secara tumpang sari demikian. Sebab setelah jagung musim penghujan ini pun, mereka masih bisa menanam jagung "marengan" atau komoditas lain yang nilai ekonomisnya lebih tinggi dari keladi. Di lahan-lahan vulkanis dataran menengah sampai tinggi, petani malahan tidak pernah "mengijinkan" keladi, singkong dan jagung ditanam secara monokultur di tengah petakan lahan. Tiga komoditas tanaman pangan ini akan dijadikan "border" di pematang, batas antar petakan atau pada batas terasering, sekaligus untuk memperkuat lahan agar tidak terjadi longsor. Alternatif lain adalah, keladi ditanam di sela-sela tanaman tahunan. Sekarang sedang trend, petani menanam tanaman tahunan penghasil kayu. Misalnya albisia, jati unggul, dll. Umur tanaman tahunan penghasil kayu ini bervariasi antara 5 sd. 15 tahun. Keladi bisa menjadi alternatif tanaman yang akan mengisi lahan di sela-sala tanam pokok tersebut, tanpa mengganggu bahkan membantu. Fungsi keladi dalam hal ini adalah mencegah tumbuhnya gulma, terutama alang-alang, karena ukuran daunnya yang sangat lebar. Gulma seperti alang-alang akan menghambat pertumbuhan tanaman kayu karena adanya zat beracun yang disebut alelopati.
Benih keladi bisa berasal dari anakan, umbi induk utuh atau umbi induk yang dipecah-pecah. Yang tidak dianjurkan adalah benih dari umbi anakan, karena justru umbi inilah yang akan dikonsumsi, sementara tanaman dari umbi anakan juga kurang produktif pada tahun-tahun I. Benih paling ideal adalah yang berupa umbi induk secara utuh. Hasil umbi anakan yang bisa dikonsumsi akan bisa langsung dipanen pada 8 sd. 9 bulan mendatang. Pada benih berupa anakan, umbi baru bisa dipanen pada tahun II. Tahun I memang sudah menghasilkan umbi, tetapi volumenya masih sangat kecil, sebab energi paling besar akan digunakan untuk membentuk umbi induk. Penggunaan umbi induk utuh, baru bisa dilakukan apabila kita sudah melakukan penanaman keladi secara rutin dan tidak berniat untuk memperluas areal tanam. Hasil keladi dari tanaman yang berasal dari bibit umbi induk, makin tahun akan semakin tinggi. Sebab ukuran umbi induk itu akan cenderung makin besar. Hingga umbi anak yang bisa dikonsumsi, akan semakin banyak dihasilkan oleh umbi induk tersebut.
Kalau kita ingin memperluas areal tanam atau baru pertama kali mengembangkan keladi, alternatifnya adalah menggunakan benih anakan atau umbi induk yang dipecah-pecah. Umbi anakan berasal dari umbi-umbi kecil yang rontok waktu panen. Umbi ini akan tumbuh menjadi individu baru, dengan tingkat pertumbuhan lamban. Baru tahun II pertumbuhan serta hasil umbinya akan lebih baik. Umbi induk dengan diameter sekitar 10 cm. dengan panjang 16 cm, bisa dipecah menjadi 7 bibit. Caranya, bagian paling atas yang memiliki tunas utama kita potong sepanjang 4 cm. Ini akan merupakan benih yang kualitasnya paling baik. Umbi di bawahnya dipotong melintang sepanjang 4 cm. hingga menjadi tiga potongan. Selanjutnya potongan tersebut dibelah membujur menjadi dua hingga total diperoleh 7 potongan umbi. Hasilnya kita jemur sekitar 10 sd. 20 menit untuk mengeringkan getahnya. Selanjutnya diangin-anginkan. Kalau kita panen keladi pada bulan Juni atau Juli dan bermaksud memperbanyak benih melalui umbi induk, maka pemecahan umbi dilakukan langsung. Potongan umbi tersebut selanjutnya kita biarkan ditumpuk di tempat teduh agar mengalami masa dorman sekitar 3 bulan. Menjelang musim penghujan, biasanya potongan umbi sudah mulai menunjukkan pertumbuhan tunas dan akar. Salah satu tunas terbesar pada potongan umbi tersebut akan nampak menyembul dan warnanya menjadi kehijauan.
Setelah hujan turun, potongan umbi itu bisa langsung ditanam di lahan tanpa melalui proses penyemaian. Caranya, dibuat lubang dengan cangkul atau parang, lalu putongan umbi ditaruh miring dengan mata tunas yang akan tumbuh menjadi anakan menghadap ke samping. Dengan demikian, apabila anakan itu tumbuh, akarnya akan bisa langsung mencapai tanah dan tumbuh ke bawah. Apabila bagian yang bertunas ditaruh di atas, maka akar yang tumbuh dari pangkal tunas tidak akan bisa langsung tumbuh ke bawah. Dalam jangka waktu sekitar dua minggu, tunas-tunas dari potongan umbi ini akan tampak tumbuh menyembul ke atas permukaan tanah. Selanjutnya, tanaman hampir tidak memerlukan perawatan sama sekali. Kecuali penyiangan dan pembumbunan pada bulan II atau III. Keladi memang komoditas yang mudah penanamannya dan tidak terlalu menuntut perlakuan istimewa. Kalau keladi dibudidayakan secara monokultur dengan pengolahan lahan dan pemupukan intensif, biayanya sama dengan penanaman singkong yakni sekitar Rp 1.500.000,- sd. Rp 2.000.000,- per hektar per musim tanam. Hasilnya bisa mencapai 20 sampai 30 ton umbi per hektar per musim tanam, dengan harga per kg. di tingkat petani sekitar Rp 200,- per kg. Total pendapatan kotor petani mencapai Rp 4.000.000,- sd. Rp 6.000.000,-
Hasil 20 sd. 30 ton per hektar tersebut, sama halnya dengan hasil kentang. Bedanya, umur kentang hanyalah 3 bulan, sementara keladi seperti halnya singkong memerlukan waktu tanam 9 bulan. Tetapi modal kerja untuk menanam kentang mencapai di atas Rp 20.000.000,- per hektar per musim tanam Sebab untuk keperluan benih, sudah sekitar Rp 8.000.000,- sampai dengan Rp 9.000.000,- per hektar. Potensi terbesar pemanfaatan keladi adalah utuk keripik. Baik dalam bentuk irisan pipih (melintang maupun membujur) atau irisan memanjang (stick). Dewasa ini keripik dengan irisan stick lebih diminati konsumen dan sudah dikemas serta digerai di pasar swalayan. Di masyarakat pedesaan, keladi lazim dikukus utuh berikut kulitnya. Bisa pula dikupas dan dipotong-potong baru dikukus atau digoreng. Keladi "ongklok" diuat dengan dikupas, dipotong-potong agak kecil dan dikukus. Setelah masak, dalam kondisi panas keladi ditaruh dalam wadah, diberi garam dan "diongklok". Jadilah menu yang lebih lezat dari kentang ongklok. Hanya, mengkonsumsinya bukan dengan mayonish melainkan lauk-pauk biasa. Keladi juga lazim dibuat getuk dan dikonsumsi sebagai pengganti nasi. Saat ini, di Jakarta juga sudah dijual keladi segar. Di pasar tradisional maupun swalayan, pada bulan-bulan Juli sd. Oktober bisa kita temukan keladi. Di tukang bajigur kita sering menjumpai keladi kukus yang utuh maupun dibelah dua tergantung ukurannya. Konsumen keladi sebenarnya sudah ada. Tetapi budidaya dan pemasyarakatannya agar keladi menjadi populer belum pernah diupayakan. (R)
Komentar
Posting Komentar